Senin, 09 September 2013

Manhattanization vs Bangunan Tua Indonesia


“Kota tanpa bangunan tua seperti manusia tanpa  ingatan”

Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc


Kata kata yang menyadarkan saya tentang konsep kota di Indonesia saat ini, konsep bangunan kotak kotak kaca, “Manhattanization” . Nama konsep yang sangat familiar, siapa yang tidak tahu Manhattan? Salah satu kota besar di Amerika Serikat dengan berbagai kemodernisasian berbagai aspek perkotaannya. Semua negara di dunia ingin meniru konsep ini, Indonesia salah satunya, untuk diimplementasikan di daerah perkotaannya. Sayangnya konsep ini malah menghilangkan “ingatan” kota tersebut. Seperti perkataan Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc di atas, bahwa kota tanpa bangunan tua seperti manusia tanpa ingatan. Kota tanpa bangunan tua tak lagi memiliki ciri khas yang dapat memberikan warna lain bagi setiap orang yang mengunjungi kota tersebut. Bapak Eko bercerita bahwa orang Amerika pernah tersesat gara gara model bangunan kota di Amerika yang sama, kotak kotak kaca besar.

Kembali pada Indonesia, saat ini Ibukota kita, Kota Jakarta sudah terinfeksi virus Manhattanization. Jarang ditemui bangunan tua, tapi banyak dijumpai kotak kotak kaca. Memang saat ini, jika kita pergi dan berkeliling ke Jakarta akan memberikan warna lain bagi kita. Karena masih bisa dihitung jari kota kota dengan konsep Manhattanization di Indonesia. Namun, ada kemungkinan kota kota lain akan meniru konsep ini mengingat reputasi Kota Jakarta sebagai Ibukota Indonesia. Kita analogikan Jakarta sebagai “ibu”, dan kota lain sebagai “anaknya”, dengan analogi seperti ini, kota lain akan meniru “ibunya” jikalau apa yang dikerjakan “ibunya” baik menurut mereka tanpa melihat  sisi sisi lainnya. Berdasarkan hal ini sebaiknya kota kota lain di Indonesia tidak meniru “ibunya” meskipun anda boleh mengartikan bahwa tidak meniru berarti durhaka.

Setiap kota di Indonesia harus menjaga dan melestarikan bangunan bangunan tua bersejarahnya. Karena bangunan bangunan tua tersebut adalah “ingatan”. Ingatan  berisi kenangan manis dan pahit yang memberi warna pada kehidupan warganya.

Coba anda bandingkan foto di bawah ini, mana yang lebih indah dan unik? Mana yang memberikan “warna” lebih jika kita mengunjungi tempat ini?






Memang di dunia yang serba modern saat ini, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Status Indonesia sebagai Negara berkembang pastinya memiliki “followers” yang lebih kecil dibandingkan Amerika sebagai negara maju. Tapi tidak ada salahnya jika kita sedikit “membelokkan” konsep modern pada bangunan di Indonesia menjadi konsep yang memungkinkan setiap kota di Indonesia untuk memiliki model bangunan yang berbeda setiap kotanya. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan ras tentu memiliki konsep bangunan yang khas pada setiap sukunya. Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjadikan Indonesia Jaya. Kedepannya dengan semakin banyaknya bangunan kotak kotak kaca, bangunan yang unik tentu memiliki nilai yang lebih dan dapat membuat lebih terkenal. Pesan saya untuk pemerintah, “Menjadi modern bukan berarti boleh meninggalkan apalagi menghilangkan kebudayaan  kita, tapi menjadi modern yang melestarikan budaya kita untuk memberikan warna yang berbeda bagi dunia. Menjadi modern yang di “follow” bukan menjadi modern “followers””


Semoga tulisan ini membuka pikiran pembaca tentang konsep bangunan di Indonesia. Terima kasih kepada Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc yang berbagi ilmu tentang “ Kota Berkelanjutan” pada kuliah perdana saya yang menyadarkan saya akan kebudayaan bangunan di Indonesia dan menggugah saya untuk menuliskannya di blog ini. Semoga bermanfaat J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar