“Kota tanpa bangunan tua seperti manusia tanpa ingatan”
Prof. Ir. Eko
Budihardjo, MSc
Kata kata yang
menyadarkan saya tentang konsep kota di Indonesia saat ini, konsep bangunan
kotak kotak kaca, “Manhattanization” . Nama konsep yang sangat familiar, siapa
yang tidak tahu Manhattan? Salah satu kota besar di Amerika Serikat dengan
berbagai kemodernisasian berbagai aspek perkotaannya. Semua negara di dunia
ingin meniru konsep ini, Indonesia salah satunya, untuk diimplementasikan di daerah
perkotaannya. Sayangnya konsep ini malah menghilangkan “ingatan” kota tersebut.
Seperti perkataan Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc di atas, bahwa kota tanpa
bangunan tua seperti manusia tanpa ingatan. Kota tanpa bangunan tua tak lagi
memiliki ciri khas yang dapat memberikan warna lain bagi setiap orang yang
mengunjungi kota tersebut. Bapak Eko bercerita bahwa orang Amerika pernah
tersesat gara gara model bangunan kota di Amerika yang sama, kotak kotak kaca
besar.
Kembali pada Indonesia,
saat ini Ibukota kita, Kota Jakarta sudah terinfeksi virus Manhattanization.
Jarang ditemui bangunan tua, tapi banyak dijumpai kotak kotak kaca. Memang saat
ini, jika kita pergi dan berkeliling ke Jakarta akan memberikan warna lain bagi
kita. Karena masih bisa dihitung jari kota kota dengan konsep Manhattanization
di Indonesia. Namun, ada kemungkinan kota kota lain akan meniru konsep ini
mengingat reputasi Kota Jakarta sebagai Ibukota Indonesia. Kita analogikan Jakarta
sebagai “ibu”, dan kota lain sebagai “anaknya”, dengan analogi seperti ini,
kota lain akan meniru “ibunya” jikalau apa yang dikerjakan “ibunya” baik
menurut mereka tanpa melihat sisi sisi
lainnya. Berdasarkan hal ini sebaiknya kota kota lain di Indonesia tidak meniru
“ibunya” meskipun anda boleh mengartikan bahwa tidak meniru berarti durhaka.
Setiap kota di
Indonesia harus menjaga dan melestarikan bangunan bangunan tua bersejarahnya.
Karena bangunan bangunan tua tersebut adalah “ingatan”. Ingatan berisi kenangan manis dan pahit yang memberi
warna pada kehidupan warganya.
Coba anda bandingkan
foto di bawah ini, mana yang lebih indah dan unik? Mana yang memberikan “warna”
lebih jika kita mengunjungi tempat ini?
Memang di dunia yang
serba modern saat ini, kita dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Status
Indonesia sebagai Negara berkembang pastinya memiliki “followers” yang lebih
kecil dibandingkan Amerika sebagai negara maju. Tapi tidak ada salahnya jika
kita sedikit “membelokkan” konsep modern pada bangunan di Indonesia menjadi
konsep yang memungkinkan setiap kota di Indonesia untuk memiliki model bangunan
yang berbeda setiap kotanya. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan ras
tentu memiliki konsep bangunan yang khas pada setiap sukunya. Hal inilah yang harus
dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjadikan Indonesia Jaya. Kedepannya dengan
semakin banyaknya bangunan kotak kotak kaca, bangunan yang unik tentu memiliki
nilai yang lebih dan dapat membuat lebih terkenal. Pesan saya untuk pemerintah,
“Menjadi modern bukan berarti boleh meninggalkan apalagi menghilangkan kebudayaan
kita, tapi menjadi modern yang
melestarikan budaya kita untuk memberikan warna yang berbeda bagi dunia.
Menjadi modern yang di “follow” bukan menjadi modern “followers””
Semoga tulisan ini
membuka pikiran pembaca tentang konsep bangunan di Indonesia. Terima kasih
kepada Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc yang berbagi ilmu tentang “ Kota
Berkelanjutan” pada kuliah perdana saya yang menyadarkan saya akan kebudayaan
bangunan di Indonesia dan menggugah saya untuk menuliskannya di blog ini.
Semoga bermanfaat J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar